| by admin | No comments

Jangan Remehkan Kondisi Gula Anda. Biasakan Lakukan Pengecekan

Berita Terbaru – Kandungan gula darah yang teratasi adalah kunci untuk menghindarkan atau perlambat munculnya komplikasi karena penyakit diabetes mellitus. Tetapi, sejumlah besar pasien diabetes jarang-jarang periksakan kandungan gula darahnya.

Jangan Remehkan Kondisi Gula Anda. Biasakan Lakukan Pengecekan

Komplikasi diabetes mengakibatkan beberapa kehancuran organ badan, salah satunya ialah diabetes retinopati yang disebut pemicu penting kebutaan pada seorang dewasa, diabetes nefropati yang disebut pemicu penting gagajl ginjal, dan penambahan penyakit kardiovaskular serta stroke. Kontrol kandungan gula darah pada pasien diabetes harus dikerjakan periodik hingga dapat diawasi apa dibutuhkan rekonsilasi skema makan atau obat.

Dalam kontrol kandungan gula darah, tanda yang digunakan ialah HbA1c, yang mengukur jumlahnya rata-rata gula dalam darah sepanjang tiga bulan paling akhir. Hasilnya tambah lebih tepat dibanding kontrol gula darah harian yang benar-benar fluktuatif. Buat orang normal, keadaan normal HbA1c ialah 4-5,7 %, sedang buat pasien DM, HbA1c yang baik dibawah 7 %.

HbA1c bisa jadi tolok ukur kesuksesan manajemen pengaturan gula darah pasien DM. Bila nilai HbA1c terus tinggi karena itu efek komplikasi tinggi. Ketua PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. Ketut Suastika SpPD-KEMD merekomendasikan pasien diabetes lakukan kontrol HbA1c tiap tiga bulan sekali. “Nilai HbA1c pasien diabetes semestinya dibawah 7 %.

Kontrol HbA1c telah di-cover BPJS di sarana kesehatan tingkat dua. Tapi sayangnya sarana untuk tes HbA1c belum rata di semua wilayah. Masalah lain kontrol HbA1c ialah harga relatif mahal, di rumah sakit swasta mungkin seputar Rp200.000,” tuturnya.

Walau kontrol HbA1c memang salah satunya hal penting dalam penatalaksanaan diabetes, tapi belum jadi alat harus di Puskesmas di Indonesia. Faktanya ialah efisiensi serta efektivitas alat berkaitan harga yang mahal serta tersedianya SDM yang dapat mengoperasionalkannya.

Insulin Nilai HbA1c dapat juga jadi tanda inisiasi pemakaian insulin. Jika seseorang pasien diabetes telah didiagnosis serta telah mendapatkan therapy dengan obat antidiabetik oral dengan dosis optimal tetapi nilai HbA1c lebih dari 7 %, dapat mengawali inisiasi insulin.

Ditambah lagi, jika pasien pertama-tama didiagnosis diabetes dengan HbA1c lebih dari 9 % adanya tanda-tanda dekompensasi metabolik, karena itu disarankan untuk inisiasi pemberian insulin agar bisa mengatur gula darah pasien.

“Pada pasien tersendiri dengan kandungan HbA1c di atas 9 % serta dibarengi tanda-tanda katabolik yang berat, serta sampai kegawatdaruratan, harus langsung diberi insulin,” kata Ketut. Sayangnya, ada banyak masalah pemberian insulin ini, terhitung dari bagian pasien tersebut. Contohnya, takut jarum suntik serta takut jika insulin membuat ketergantungan.

Dalam usaha mengatur angka prevalensi diabetes, Kementerian Kesehatan RI keluarkan ketetapan untuk pemakaian insulin buat pasien diabetes type 2 yang kandungan HbA1c-nya 9 % serta tidak teratasi dengan pemberian gabungan obat oral anti-diabetes

. “Saat ini, bila pasien hadir ke Puskesmas serta memerlukan kontrol HbA1c karena itu dipakai sarana referensi ke pusat service kesehatan tingkat dua. Prosesnya dapat dengan berjejaring dengan laboratorium klinik yang bekerja bersama dengan BPJS,” jelas Drg. Saraswati MPH, Direktur Service Primer, Dirjen Service Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.

Tidak hanya dengan kontrol HbA1c yang diikuti dengan penyembuhan medis, penataan gizi, serta aplikasi gaya hidup sehat penting untuk pengendalian diabetes. Pasien diabetes harus jaga konsumsi makanan, olahraga secara teratur, serta taati gagasan penyembuhan yang diberi oleh dokter, untuk kontrol penyakit diabetes yang lebih optimal.

Leave a Reply